Damir and I (honeymoon)
Postingan ini akan menjelaskan secara detail apa yang terjadi pada malam pertama kami, namun saya ngapusi. Jadi tidak jadi saya jelaskan secara detail, melainkan akan saya ambil garis besarnya saja. Malam pertama saya datang bulan, maka dari itu malam pertama kami undur, dan merujuk pada prosesnya yang tidak mudah maka durasinya kami perpanjang.
March 11th - 13th, 2010 (Kamis - Jumat- Sabtu)
Setelah seminggu perkawinan kami, saya ambil cuti kantor dua hari untuk jalan jalan ke Jogja. Honeymoon kami ke Jogja sangat melelahkan, khususnya untuk saya. tapi karena melancongnya sama suami, jadi ya seneng aja, kemana mana gandengan, dan suami saya itu ndeso, lihat apa-apa gumun dan gampang digathak’i penjual.
Kami berangkat ke Jogja hari kamis siang setelah saya selesai ngurus passport di kantor immigrasi, naik Bus Joglosemar. Dalam perjalanan saja suami saya sudah sangat menikmati, setiap ada sawah diphoto. Trus kita berangan-angan, besok kalau kaya dan uangnya banyak mau bikin rumah di Salatiga, soalnya Salatiga tempatnya masih asri, sejuk dan nggak berising,.. bla blla bla… dan sesampai di Jogja langsung ke hotel, dekat Malioboro.
Sesampainya di hotel, suamiku mengeluh kalau perut nya sakit, nek tak pikir-pikir menurutku suamiku masuk angin. tapi suamiku ngeyel dan panik sendiri, katanya perutnya mual mau muntah, trus dia ndak mau makan. Sedih rasanya.
But we did had lotsa fun, in the ext morning we went to Sultan Palace (Keraton). Di Keraton, suamiku diwawancarai anak anak SD yang lagi belajar bahasa Inggris, dan saya pun suga kena wawancara pake bahasa enggres. Sudah dua kali ini jalan sama damir dikira aku bukan orang Indonesia. Mungkin orang orang itu mengira aku dari Rusia…
Sore nya setelah mampir ke Mirota Mall dan mborong pernak pernik khas Jogja, kami langsung pulang ke Semarang. Eh lha kok sampek rumah, malah rumah terkunci dan kunci dibawa Mamah ku ke Ungaran. ALhasil malam2 jam 10.00 ke Ungaran naik motor tetangga ngambil kunci, padahal suamiku kondisi lagi sakit pengen muntah.
Capek banget, dan pikiran gesuh karena suami sakit. Sampai waktu kami kembali ke Jepara hari minggu nya aku nangis. Perutku juga kembung, suami yang waktu itu mengeluh sakit langsung jadi perhatian dan ngelus-elus. Herannya setelah aku nangis, kok suami jadi sehat malam itu juga dan dia akhirnya ngomong lapar dan minta makan.
Tenyata penyesuaian dalam suatu hubungan tidak berhenti begitu saja setelah menikah,.. dan saya sangat ikhlas melakukan penyesuaian itu, sampai kapanpun karena saya sangat mencintainya.

Posted in life, love on March 30th, 2010 by niningss | | 9 Comments
Damir and I (The Wedding)

Pernikahan kami, berlangsung dengan sangat indah,.. walah.. sederhana, hikmah, lancar dan there were many good signs…
Awalnya, saya dan damir berencana untuk tidak mengadakan pesta apapun. Hanya ijab kobul, sah secara agama dan hukum Indonesia. Tapi ketika saya bilang ke keluarga, mamah saya ngendiko kalau dia pengen ada pesta, walaupun cuman sederhana. Karena, dulu kakak2 saya dipestakan dengan meriah, dan mamah saya tidak mau ketika Bapak saya sudah meninggal, ragilnya nikah tidak dipestakan. Mamah saya pengen ada kenang-kenangan, apalagi rencana setelah menikah saya akan ikut suami.
Alhasil kami merencanakan pernikahan kecil2an, saya dengan dibantu kakak2 saya.
Banyak orang yang bertanya kenapa mendadak, sebenernya tidak mendadak. Rencana dan proses sudah dilakukan sejak 3 bulan sebelumnya, hanya saja saya tidak mau pengumuman sebelum calon suami sampai di Indonesia, dan resmi menjadi mualaf. Maka dari itu, undangan pun disebar 4 hari sebelum pernikahan berlangsung.
Pernikahan kami hanya ijab kobul dan syukuran biasa, tanpa ada upacara jawa yang njlimet. Ijab kobul dilaksanakan di depan rumah, banyak sahabat2 dekat dan saudara2 yang datang untuk menyaksikan.
Ketika damir mengucapkan ijab kobul tersebut, saya rasa banyak yang deg2an, karena ijab kobul diucapkan dengan bahasa Indonesia. Tapi saya tidak deg2an, karena entah mengapa pada saat itu saya percaya semua akan lancar. Dan alhamdulillah, damir suami saya mengucapkannya dengan sangat lancar dan jelas, hingga tidak perlu diulang. Yang paling membuat saya bahagia adalah, yang menikahkan saya adalah wali saya, yaitu kakak saya sendiri, mas mbarep saya Ibnu Bintoro, yang datang jauh2 dari Palembang dengan istrinya tercinta, Mbak Mega.
Saya sempat khawatir, kalau kakak saya tidak mau menikahkan kami. Dulu waktu saya memberitahu niat saya untuk menikah, kakak saya shock, sampai ambruk sakit. Kakak saya sebenernya sudah tahu, kalau saya berhubungan dengan lelaki dari Bolivia, tapi membayangkan saya akan meninggalkan keluarga di sini dan membayangkan bagaimana nasib saya di sana nanti, ketika kakak saya belum pernah ketemu damir, kakak saya pasti takut. Itu tebakan saya, karena almarhum Bapak saya dulu juga seperti itu, namun setelah ketemu dengan damir, alm Bapak saya jadi sayangggg banget sama damir.
Setelah damir mengucapkan ijab kobul itu, kakak saya pun jadi terharu dan jadi tak kuasa untuk memeluknya. Lega rasanya.
Sesudah itu, kakak saya menginginkan damir untuk membaca sumpah nya setelah menikah. Ini yang membikin saya deg2an, karena damir belum belajar sama sekali, alhasil damir membaca dengan grogi, shakking, tapi alhamdulillah selesai dengan lancar, walau ada pronunciation yang sedikit aneh… hehe…
Setelah ijab, kami ganti baju untuk acara selanjutnya,.. syukuran berjalan dengan lancar. Herannya, tamu yang datang tidak dalam waktu yang bersamaan, jadi tidak grudukan, tertib, seperti lima orang… lalu lima orang lagi… non stop sampai acara selesai. Sehingga kami tidak kemrungsung.
Setelah acara shukuran selesai, penganting berdua ganti baju santai dan dikerjain yang rewang, katanya pengantin laki dan perempuan harus nyapu latar. Maka kami pun nyapu latar depan rumah, karena tratag nya itu empat rumah, maka kami pun nyapu latar empat rumah. Damir suamiku kie ya sregep e minta ampun, dikongkon nyapu kok ya nyapu, sampek resik. Katanya, itu ibarat mencari rejeki berdua.
Setelah selesai nyapu, bressss hujan datang. Lumayan deras, tapi cuman 30 menit an, katanya itu juga pertanda bagus, karena hujan pertanda rejeki. Amiiinnn…
Pakde saya dari jogja, juga datang walaupun sudah sepuh. Dan pakde saya senang sekali dengan suami saya, setelah saya kenalkan ke suami saya, selang satu jam kemudian pakde saya ngendikan ke saya, “Nining, aku ayem.. aku seneng… bojomu wonge apik… mbek jeneng mu tak gathuk’ke karo jenenge bojomu kie tibone sugeh… aku wis ayem ning..”.. Mendengar itu saya juga ikut ayem, mungkin kalau almarhum Bapak saya masih ada, Bapak saya juga jadi ikut seneng, ora ketang rejeki itu yang ngasih sing Kuoso. Tapi saya anggap itu doa baik… and again.. Ammiieen…..
Begitulah cerita pernikahan kami, semoga sakinah, mawadah dan rakmah…
Trimakasih untuk teman2 yang sudah menyempatkan untuk datang, dan yang sudah mendoakan…
Posted in life, love on March 20th, 2010 by niningss | | 10 Comments
Damir and I (the meeting after the waiting)
Hari Sabtu tgl 20 February 2010,
Saya menjemput Damir ke bandara Soekarno-Hatta, yang jika sesuai jadwal harusnya sampai jam 18.25.
Sebenernya sesuai jadwal, namun karena itu adalah penerbangan international, maka pasti para penumpang harus ngantri dulu di immigrasi nya, untuk di cek ini dan itu.
saya udah sampe di bandara jam 3.00 sore, jalan2 dulu di bandara kayak orang hilang, shallat, beli jajan ini itu, lalu mendekati jam nya saya ke toilet untuk pupuran, maksudnya dandan, biar damir cintaku yang waktu itu masih calon suami nggak begitu kecewa kecewa amat melihat calon istrinya yang masih pesek juga tapi kelihatan mukanya bersih, cerah dan imut memakai blush on andalan.
Sudah berada di depan pintu kedatangan, saya deg deg an. Saya paling benci deg deg an, tapi perasaan deg deg an nggak bisa ditahan, deg deg an itu juga dibarengi dengan rasa cemas, dll dsb. Karena damir sering banget dapat masalah di penerbangan, nggak itu ttg passport nya, ttg bagage nya, bahkan ttg muka nya yang terlalu kurus seperti pengedar narkoba.
Karena nggak kunjung datang2, alhasil deg deg an hilang, yang ada cuman cemas dan jengkel. Sampai saya harus masuk ke pintu kedatangan, dan Alhamdulillah, damirku tercinta datang pas saya cemas di muara pintu kedatangan itu. Damir waktu itu pake blazer, wis jan persis pengusaha yang lagi business trip. Adegan nya waktu itu dia lagi nyang2 an sama kuli koper. trus kuli koper nya aku kasih 25ribu, and I couldnt stand to hug him that time. We hugged and kissed, then we took a taxi to the hotel near Sea World.
Lega rasanya sudah ketemu, jerawat yang aku panen selama tiga bulan berturut2 tanpa henti, karing malam itu juga. Muka ku jadi bersih, walau masih ada sedikit noda2 jerawat.
Keesokan hari nya, kami ke Sea World, karena damir pengen banget lihat ikan ikan dasar laut di perairan Indonesia. We had sooo much fun there, taking pics and damir was explaining to me about those fishes like he knows everything. Well he knows everything, :D.. more than anyone I know.
Setelah seharian di Sea World, we went home to Semarang by night flight. Sesampainya di rumah Semarang, I made him Indomie. Waktu saya mau kasih indomie ke damir, saya bisa melihat dia menangis. Pertama ketemu dulu, memang damir menangis, tapi ketemu kemarin, tidak ada yang menangis, waktu itu kita cuman happy banget. Tapi kenapa sampai di Semarang, dia baru menangis??.. It made me worried, dan saya pun memeluk nya, saya tanya apa dia takut? apa dia belum siap menikah? apa dia ingin membatalkan? saya bilang ke dia, jika ingin dibatalkan tidak apa apa, tidak ada yang terlambat.
Kami pun berpelukan menangis, tapi tidak terisak-isak, iya dong!!.. kan damir laki2, dan aku udah besar. tapi air matanya keluar, dan bibirnya shaking. After a while, dia bilang kalau dia tidak ingin meninggalkan saya lagi, jika saya tidak mau pindah ke Bolivia, dia yang akan pindah ke Indonesia. Dan definitely dia tidak mau membatalkan pernikahan ini, karena itu yang dia inginkan. Dia mencintai saya.
Ada beberapa orang berpendapat, jangan terlalu banyak mengatakan “I love you” karena akan mengurangi makna nya. Untuk kami, mengucapkan “I love you” bisa 57 kali dalam sehari, dan makna nya tidak akan berubah bagi kami. Dan untuk saya, ucapan “I love you” hanya milik nya, saya tidak pernah mengatakan cinta kepada lelaki lain kecuali dia.
Kalau kami punya anak nanti, anak2 kami juga akan kami biasakan untuk mengekspresikan cinta mereka dengan kata2 dan tindakan kepada orang tua dan saudara mereka.
Itulah cerita pertemuan kami setelah penantian yang panjang.
Mohon untuk teman teman dan saudara saudara, untuk tetap mendoakan kami, karena pernikahan kami unik, Indonesia-Bolivia, beda kultur, budaya dan half world away far, yang membuat kami akan selalu membutuhkan ridho Nya, dukungan dan doa teman2 dan saudara2.
Posted in life, love on March 19th, 2010 by niningss | | 15 Comments
